The Demon-Haunted World - Carl Sagan

THE DEMON-HAUNTED WORLD
Science as a Candle in the Dark
karya: Carl Sagan


Kategori: Sains, Nonfiksi, Filsafat, Sejarah, Fisika,
Tahun terbit pertama: Februari 1996
Jumlah halaman: 438
Rating Goodreads: 4.27
Bahasa: Inggris

ULASAN:
Buku ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul The Demon-Haunted World: Sains Penerang Kegelapan, diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia tahun 2018. Dan sangat saya sarankan Anda untuk membeli dan membaca buku itu. Ini bukan ngiklan tapi memang buku ini penting untuk dibaca, terutama untuk orang-orang di negeri ini.

Jika Anda termasuk orang yang nuraninya terusik dengan pertanyaan: Mengapa banyak orang bisa dengan mudah percaya pada teori Atlantis ada di Indonesia, di Sadahurip ada piramida yang lebih besar dan lebih tua dari yang ada di Mesir, atau bahwa tidak lain dan tidak bukan Nabi Sulaiman-lah yang membangun Borobudur? Jika Anda termasuk orang yang merasa jengkel dan bertanya-tanya mengapa mereka kemudian tidak memilih untuk mencari jawabannya melalui "penelitian ilmiah" padahal sudah banyak buku-buku ilmiah tentang semua hal itu? Buku karya Carl Sagan ini menjawabnya. 

Tentu saja Sagan tidak bicara tentang Indonesia, Borobudur, atau Nabi Sulaiman, tapi ia membahas tentang "kemenangan" sains abal-abal (atau istilah kerennya pseudosains) melawan ilmu pengetahuan yang diperoleh lewat prosedur metode ilmiah yang ketat. Sagan berbicara tentang faktor-faktor yang menguntungkan pseudosains, semisal kemudahan untuk membuat pseudosains menjadi terlihat meyakinkan dan psikologi "harapan" yang menjadi sifat dasar manusia, serta betapa mengasyikkannya cerita yang dituturkan oleh orang-orang pendukung pseudosains itu. 

Sementara itu, betapa "repot, sulit, ketat dan garing"-nya proses dalam menyelidiki dan menyusun ilmu pengetahuan bertanggungjawab yang kita sebut sebagai "metode ilmiah". Belum lagi sungguh sulit menyusun kata-kata dan merumuskan kalimat agar laporan hasil penelitian itu berupa bahasa yang populer untuk bisa dimengerti oleh khalayak ramai.

Takhayul, prestise, dan kemalasan, telah menjerumuskan banyak orang di negeri ini ke dalam kebodohan. Ketika bertemu dengan hal membingungkan -- yang menurutnya tidak bisa dinalar -- orang cenderung mencari jawaban yang instan. Bubuhi cerita yang membingungkan itu dengan prestise, katakanlah misalnya dengan pertanyaan "tidakkah luar biasa bahwa bangsa kita memiliki piramida yang lebih tua dari bangsa Mesir?" atau "bukankah membanggakan jika seorang nabi yang disebut-sebut dalam kitab suci adalah orang Indonesia?". Kemudian, bacalah buku-buku ilmiah tentang semua hal itu, lihatlah betapa "garing"-nya buku-buku itu, dan Anda akan menyadari mengapa orang-orang malas membaca buku-buku yang tidak pernah jadi bestseller di toko-toko buku itu.

Di bukunya ini, Sagan membahas itu semua. Ia mengatakan bahaya mengenai kesukaan pada pseudosains, seperti yang ditulis dalam situs Goodreads, "tidak saja merupakan kekeliruan arah dalam budaya (berpikir) namun lebih jauh akan menjerumuskan kita ke dalam kegelapan yang akan mengancam kemerdekaan mendasar kita".

Buku ini wajib dibaca, sebab dalam blog ini, saya juga akan mengunggah buku-buku pseudosains. Mengapa? Sebab, menurut saya pribadi, akan lebih aman memajankan atau menghadapkan seseorang pada ilmu yang keliru, lalu memberikan alternatif sains yang logis, mengarahkannya pada jalur ilmiah yang ketat dan dapat dipertanggungjawabkan, sehingga ia bisa menilai di mana letak kekeliruannya daripada kita mati-matian menyembunyikan pseudosains dari seseorang. Sebab, seperti yang harus kita akui bersama, metode ilmiah memang repot, tidak menarik, dan membosankan, padahal dengan begitu mudahnya informasi mengalir di masa sekarang, cepat atau lambat seseorang akan dihadapkan pada pseudosains yang, sialnya, lebih menarik. Jadi, akan lebih berbahaya jika seseorang yang merasa bosan dengan sains, kemudian justru menjadi seorang penganut pseudosains karena ia baru mendapati bahwa pseudosains itu lebih mengasyikkan.

------
------ 

Post a Comment

0 Comments