Arkeologi
Reading the Past - Ian Hodder
READING THE PAST
Current Approaches to Interpretation in Archaeology
karya: Ian Hodder & Scott Hutson
Kategori: Nonfiksi, Arkeologi, Teori, Pengantar
Tahun terbit: Edisi ke-3, 2003, Terbit pertama tahun 1986
Jumlah halaman: 313
Rating Goodreads: 3.78
Bahasa: Inggris
ULASAN:
Edisi ketiga dari buku pengantar klasik teori dan metode arkeologis ini telah dimutakhirkan sepenuhnya agar bisa mencakup perkembangan perdebatan teoretis di bidang ilmu arkeologi. Ian Hodder dan Scott Hutson berpendapat bahwa para arkeolog semestinya memperhatikan beragam perspektif yang ada dalam upaya yang kompleks dan penuh ketidakpastian merekonstuksi makna dari masa lalu. Sembari tetap berpusat pada segi penting dari hermeneutika, agen-agen, dan sejarah arkeologi, keduanya menjelajahi perkembangan-perkembangan baru di bidang ilmu ini semisal pascastrukturalisme, teori neo-evolusioner, dan cabang teori yang benar-benar baru seperti fenomenologi. Dengan adanya penambahan dua bab yang sepenuhnya baru, edisi ketiga dari buku Reading the Past ini menyajikan analisis terbaru yang otoritatif terhadap teori arkeologis kontemporer. Buku ini juga berisikan bahan-bahan baru tentang arkeologi feminis, pendekatan-pendekatan historis semisal sejarah budaya, dan teori-teori mengenai diskursus dan tanda-tanda, sehingga menjadi bacaan penting bagi mahasiswa dan para pakar yang tertarik akan masa lalu.
-----
Tentang penulis:
Profesor Ian Hodder adalah Dunlevie Family Professor di Jurusan Antropologi Budaya dan Sosial, Stanford University, dan anggota dari British Academy.
Scott Hutson bekerja di Archaeological Research Facility, University of California, Berkeley.
-----
Catatan blogger:
Buku ini merupakan salah satu bacaan wajib bagi para mahasiswa arkeologi karena merupakan pengantar dalam memahami teori-teori di bidang arkeologi. Peranan buku ini semakin penting ketika mahasiswa mengikuti mata kuliah "Sejarah Pemikiran (Arkeologi) Modern" (setidaknya begitulah namanya waktu saya kuliah dulu) dan "Metode Arkeologi". Juga ketika menyusun latar belakang teori di tugas akhir.
Kompleksitas arkeologi sebagai bidang ilmu yang multidisipliner membuat bidang ilmu ini memiliki sejarahnya sendiri yang bisa dibilang progresif. Saya kira bolehlah dikatakan bahwa jika ada cakrawala baru dalam perkembangan ilmu pengetahuan, terutama di bidang sosial budaya, ke tepi saujana itulah para arkeolog diharapkan untuk ikut. Sebagai contoh, dalam edisi ketiga Reading the Past ini feminisme, fenomenologi, dan diskursus atas tanda-tanda mendapat bahasan yang lebih banyak. Tidak demikian halnya di edisi-edisi sebelumnya, walaupun "firasat" keberadaannya sebagai suatu cabang baru sudah ada sejak dahulu, terbaca dari ramainya pembahasan gender dan simbolisme dalam arkeologi.
Maka, begitulah arkeologi. Ilmu ini pada dasarnya bersifat tidak-ajek, tumbuh seiring dengan berkembangnya kompleksitas kebudayaan dan sosial manusia. Siapa yang tahu kelak mungkin akan muncul bidang 'arkeologi dunia-maya' ketika para mahasiswa dan arkeolog "dipaksa" untuk mempertimbangkan data biner sebagai "bahasa" yang setingkat dengan sansekerta saat ini, menganggap iphone, android, komputer, sebagai "benda budaya" yang mewakili zamannya, lalu mengklasifikasikannya sebagai "artefak"?
--------
--------
Post a Comment
0 Comments