Bahasa Indonesia
Dilan - Pidi Baiq
DILAN
Dia Adalah Dilanku Tahun 1990
karya:
Pidi Baiq
Kategori: Fiksi, Novel, Remaja, Roman
Tahun terbit: 2014
Jumlah halaman: 333
Rating Goodreads: 4.12
Bahasa: Indonesia
ULASAN:
Novel yang mengangkat nama Pidi Baiq di ranah sastra Indonesia ini cukup fenomenal, apalagi setelah diangkat sebagai film layar perak dengan aktor dan aktris yang terkenal di kalangan remaja Indonesia masa kini.
Kisahnya sederhana, tentang kisah cinta sepasang remaja di masa SMA, Dilan dan Milea. Ada dua hal yang menarik dari novel ini. Pertama, setting tempat di Bandung dengan waktu kejadian di tahun 1990 yang tentu saja menimbulkan rasa "nostalgi" bagi mereka yang pada tahun itu sedang menjadi remaja SMA. Pidi Baiq lumayan mampu mengangkat suasana 90-an ini dalam novelnya, ia bisa menyebutkan nama-nama tempat di Bandung yang sekarang beberapa di antaranya bahkan sudah tidak ada. Adegan-adegan remaja khas masa tersebut juga pandai diingat oleh Pidi Baiq.
Sisi menarik yang kedua, kisah ini diceritakan dari sudut pandang Milea. Artinya, dunia dalam cerita ini, terutama sosok Dilan, dilihat dari kacamata Milea. Sepanjang novel kita akan disuguhkan sudut pandang, pemikiran, dan perasaan Milea dalam menghadapi dunia barunya. Di sini Pidi Baiq pandai mengambil sisi anak remaja perempuan dalam menarasikan ceritanya.
Sayangnya, penataan kata dan kalimat dalam novel ini terkesan amatiran. Barangkali karena Pidi Baiq mencoba berdialog dengan gaya humor khas Bandung, jadi bagi mereka yang bukan orang Bandung atau orang Sunda, beberapa kalimat terasa tidak mengena karena ketidakmampuan menangkap intonasi dalam kalimat. Sebenarnya, bagi mereka yang mengerti, dialog-dialog dalam novel ini cukup lucu (dan garing khas urang Bandung) sampai kemudian difilmkan, dan hilanglah kelucuan dalam kalimat-kalimat itu di filmnya.
Saya sendiri secara pribadi besar pada tahun 90-an. Pada masa itu, kisah remaja banyak membanjiri pasaran buku dan sastra di Indonesia. Cerita pendek, cerita bersambung, bahkan novel serial sedang moncer-moncernya dengan media majalah seperti Hai, Gadis, dan Aneka sebagai penyalur cerita-cerita tersebut. Cerita novel serial seperti Lupus, Olga, Balada Si Roy, Anak-anak Mama Alin, dan sebagainya akrab dengan keseharian remaja pada masa itu. Jadi, membaca Dilan buat saya seperti menengok ulang ke masa silam.
Jumlah halaman: 333
Rating Goodreads: 4.12
Bahasa: Indonesia
ULASAN:
Novel yang mengangkat nama Pidi Baiq di ranah sastra Indonesia ini cukup fenomenal, apalagi setelah diangkat sebagai film layar perak dengan aktor dan aktris yang terkenal di kalangan remaja Indonesia masa kini.
Kisahnya sederhana, tentang kisah cinta sepasang remaja di masa SMA, Dilan dan Milea. Ada dua hal yang menarik dari novel ini. Pertama, setting tempat di Bandung dengan waktu kejadian di tahun 1990 yang tentu saja menimbulkan rasa "nostalgi" bagi mereka yang pada tahun itu sedang menjadi remaja SMA. Pidi Baiq lumayan mampu mengangkat suasana 90-an ini dalam novelnya, ia bisa menyebutkan nama-nama tempat di Bandung yang sekarang beberapa di antaranya bahkan sudah tidak ada. Adegan-adegan remaja khas masa tersebut juga pandai diingat oleh Pidi Baiq.
Sisi menarik yang kedua, kisah ini diceritakan dari sudut pandang Milea. Artinya, dunia dalam cerita ini, terutama sosok Dilan, dilihat dari kacamata Milea. Sepanjang novel kita akan disuguhkan sudut pandang, pemikiran, dan perasaan Milea dalam menghadapi dunia barunya. Di sini Pidi Baiq pandai mengambil sisi anak remaja perempuan dalam menarasikan ceritanya.
Sayangnya, penataan kata dan kalimat dalam novel ini terkesan amatiran. Barangkali karena Pidi Baiq mencoba berdialog dengan gaya humor khas Bandung, jadi bagi mereka yang bukan orang Bandung atau orang Sunda, beberapa kalimat terasa tidak mengena karena ketidakmampuan menangkap intonasi dalam kalimat. Sebenarnya, bagi mereka yang mengerti, dialog-dialog dalam novel ini cukup lucu (dan garing khas urang Bandung) sampai kemudian difilmkan, dan hilanglah kelucuan dalam kalimat-kalimat itu di filmnya.
Saya sendiri secara pribadi besar pada tahun 90-an. Pada masa itu, kisah remaja banyak membanjiri pasaran buku dan sastra di Indonesia. Cerita pendek, cerita bersambung, bahkan novel serial sedang moncer-moncernya dengan media majalah seperti Hai, Gadis, dan Aneka sebagai penyalur cerita-cerita tersebut. Cerita novel serial seperti Lupus, Olga, Balada Si Roy, Anak-anak Mama Alin, dan sebagainya akrab dengan keseharian remaja pada masa itu. Jadi, membaca Dilan buat saya seperti menengok ulang ke masa silam.
Post a Comment
0 Comments